The Cute And The Hot [^_^]
Banyak Lelaki berpikir harus ganteng dulu supaya bisa dapat pacar. Tetapi saya justru banyak menemukan lelaki keren mentereng yang kesulitan mendapatkan pasangan. Kejadian seperti ini sama persis seperti yang dialami anak-anak muda, yang baru merintis usaha yang habis-habisan fokus pada produk kebanggaannya.
Seorang remaja misalnya, komplain kepada adik-kakaknya yang kesemuanya perempuan. Sebagai satu-satunya anak lelaki ia merasa ada yang kurang beres. Ia lalu bertanya kepada adiknya, “apakah saya kurang keren?” Adiknya berkata dengan bahasa gaul “kakak cute kok!” Cute berarti keren, tidak jelek, si adik menyimpulkannya setelah bergunjing dengan “geng”-nya di sekolah, tetapi mengapa kakak “cute” tidak dapat cewek?
HOT: Action
Mudah saja dijawab, ternyata cewek-cewek itu bukan mencari yang cute, melainkan yang hot. Cowok-cowok yang keren sering kali tidak hot, manja, menunggu dilamar, tinggi hati, dan hanya sibuk berdandan. Sekarang Anda jadi mengerti bukan, mengapa banyak perempuan cantik yang tidak jatuh ke pelukan laki-laki cute? Bahkan Anda sering menghujat, “lha kok cowoknya parah banget? Nggak selevel?” Masalahnya, merekalah yang berani mendatangi, bolak-balik tak kenal lelah.
Itulah reality show. Sekali lagi bukan yang cute, melainkan yang hot-lah yang dicari. Ini sama persis dalam dinamika bisnis di era Cracking Zone. Pasar bukan mengejar produk yang cute, melainkan yang hot. Barang-barang yang cute tidak beredar, sedangkan yang hot, meski kurang-kurang sedikit, bahkan maaf, kadang juga yang kurang bagus, melenggang lancar di pasar karena ia digerakkan, pemikiknya aktif mendatangi pasar.
Saat menulis kolom ini saya pun sedang berada di Banda Aceh, menghadiri Festival Kopi Aceh tak jauh dari Masjid Raya kesohor itu. Di antara tenda-tenda peserta, saya mendatangi UMKM binaan Rumah Perubahan secara on the spot. Dengan jelas kami bisa membedakan mana saja UMKM yang akan maju dan mana yang akan diam di tempat: Mereka yang diam itulah yang tendanya bagus dan asyik sendiri. Sedangkan yang hot, aktif mendatangi. Ini sama persis dengan UMKM yang dibawa pemda-pemda ikut pameran ke luar negeri.
UMKM yang hot sudah siap dengan aneka brosur dan kartu nama, sedangkan yang cute sibuk menyiapkan display produk dan stand. Kita tahulah bagaimana kerja birokrasi yang masih banyak digerakkan prinsip “sekedar menghabiskan anggaran.” Dengan prinsip itu, pemerintah sudah pasti tidak mendapatkan lokasi pameran yang “hot”. Jadi letaknya tidak pada posisi yang strategis, menyempil di dalam-dalam kotak yang tersudut. Pada posisi seperti ini, Departemen Perdagangan lebih senang menghabiskan uangnya untuk membuat desain stand yang ”cute”, ditambah sejumlah kegiatan Public Relations yang ditopang wartawan dari dalam negeri.
Wartawan yang tidak kritis “tertipu” habis karena hanya menyajikan berita betapa “cute”-nya stand pameran Indonesia. Seakan-akan yang cute itulah yang sukses. Statistik yang diberikan pemerintah juga amat impresif. Tapi tanyakanlah kepada pelaku-pelaku UMKM yang “cute” tadi, apakah betul mereka mendapatkan order?
Beberapa tahun yang lalu ada anak muda yang ikut pameran pariwisata yang amat terkenal di Berlin. Sewaktu saya kunjungi saya tertegun karena ia tak berada di dalam area stand pemerintah Indonesia. Ia berkeliling sambil membawa sebuah hand luggage beroda dan bersama temannya membagi-bagikan brosur pada para pengunjung yang keluar dari area standpemerintah Malaysia, Turki, Thailand, atau Israel. Maklum itulah empat negara yang gencar berpromosi dan paling banyak dikunjungi calon-calon “buyer” dan travel agents.
Sementara pelaku-pelaku pariwisata Indonesia mengeluh pada pemerintah karena pamerannya gagal, anak muda itu justru mendapatkan “pacar”, yaitu order dari mancanegara.
Jadi, cracking zone ini memang penuh jebakan batman, kita mengira segala yang cute akan digemari, nyatanya tidak demikian. Sama juga dengan wirausahawan-wirausahawan muda yang hanya sibuk dengan pengembangan produk tok.Produk yang cute tak akan otomatis bergulir. Malaysia saja alamnya tak se-“cute” Indonesia bisa mendapatkan turis lebih banyak. Tentu bukan karena prinsip “the cute”. In real life, the hot is the darling!
my becycle and the Jirisan Tour of 11-11-2011
Saatnya untuk berubah!
saduran dari catatan motivasi diri
- Pasrah pada perubahan. Boleh dibilang, sebagian besar orang pasrah saja pada perubahan. Bukan karena ingin menerimanya, namun karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Biasanya ya tidak nyaman karena ada rasa terpaksa. Memang tidak semua orang yang pasrah merasa terpaksa. Ada juga yang pasrah dengan benar-benar tulus ikhlas. Boleh? Oh boleh saja. Tetapi, jangan sampai kita memposisikan diri sebagai obyek perubahan itu. Sikap pasrah itu beresiko. Jika Anda punya atasan yang peduli, maka dengan kepasrahan itu Anda bisa mendapatkan manfaat dari perubahan. Tapi, jika atasan Anda tidak benar-benar peduli, maka Anda bisa menjadi ‘korban’ dari perubahan. Dengan kemungkinan-kemungkinan seperti itu, menurut pendapat Anda; Apakah sikap pasrah masih bisa diandalkan?
- Tidak peduli pada perubahan. Mau berubah, kek. Mau ini itu, kek. Begini begitu. Terserah saja. Ada orang yang berprinsip demikian? Banyak. “Yang penting, gua jangan diungkit-ungkit!” begitu lanjutnya. Apapun yang terjadi di perusahaan terserah management saja, asal jangan ganggu saya. Ini prinsip yang rada kompleks. Mereka yang tidak peduli pada perubahan tidak menjadi penghalang ‘gagasan’ untuk melakukan perubahan, tetapi mereka juga tidak mau mendukung proses implementasinya. Tuntutan untuk ‘tidak mengganggu kepentingan gue!’ juga sangat absurd. Sebab tidak ada perubahan bermakna yang berdampak parsial. Semua elemen perusahaan memiliki kesalingterkaitan satu sama lain, sehingga nyaris mustahil jika kondisi-kondisi penting tidak terpengaruh oleh perubahan yang signifikan. Boleh saja jika perusahaan hanya bermain didalam arena perubahan yang kecil. Tetapi, jangan berharap tahun depan akan memberikan hasil yang lebih baik. Sebab lingkungan bisnis berubah. Perilaku pelanggan berubah, strategi pesaing juga berubah. Maka mau tidak mau, perusahaan harus berubah. So, tidak peduli pada perubahan? Bukan pilihan sikap yang tepat.
- Marah pada perubahan. Aaarrrghhhtch! Tahun kemarin berubah! Tahun ini berubah! Setiap tahun berubah! Maunya apa sih, perusahaan ini?! Ada orang yang marah-marah begitu? Banyak juga. Namun dari semua upaya saya mencermati orang-orang yang mengambil sikap marah atas perubahan di perusahaan, saya tidak melihat ada orang yang ‘win’ dalam pertarungan ini. Mereka semuanya ‘menabrak tembok’. Tentu Anda tahu bagaimana rasanya jika kepala kita menabrak tembok, bukan? Benjol. Banyak karyawan yang tidak memiliki kekuatan apa-apa namun ngotot untuk melawan proses perubahan di perusahaan. Sehingga mereka bukan hanya menjadi penghalang bagi proses perubahan, melainkan juga menjadi musuh para pengambil keputusan. Siapa yang akan menang? Yang jelas, tidak dua-duanya. Kemungkinan besar win-lose. Atau mungkin lose-lose. Tapi peluang terbesarnya, perusahaan menang; dan karyawan yang melawan perubahan karena marah, biasanya kalah. Jadi, apakah marah pada perubahan bisa menjadi pilihan bijak? Definitely not.
- Menyesuaikan diri dengan perubahan. Ini jenis orang yang bisa berdansa dengan perubahan. Meliuk kesana kemari, menari dengan gemulai bersama angin perubahan yang behembus sepoi. Anda bisa melihat sifat ini pada pohon bambu. Dia tidak pernah melawan hembusan angin seperti yang biasa dipertontonkan oleh pohon-pohon besar yang merasa dirinya tangguh. Makanya, ketika begitu banyak pohon yang runtuh – pohon yang pasrah, pohon yang tidak peduli, dan pohon yang marah – rumpun bambu sangat jarang sekali yang tumbang. Angin berubah arah, tarian bambu pun mengikuti arah perubahannya. Bahkan, mereka melakukannya sambil memainkan simfoni indah melalui gesekan daun-daunnya yang bergoyang seirama dengan angin. Di kantor, banyak juga orang yang pintar menyesuaikan diri seperti bambu ini. Biasanya mereka bertahan lebih lama. Dan berkontribusi terus sesuai dengan tuntutan perubahan. Merekalah orang-orang yang bersedia menjadi bagian dari perubahan – dan tentunya – mereka juga turut menikmati hasilnya. Apakah Anda sudah memiliki sikap mental seperti itu?
- Mengelola perubahan secara aktif. Kebanyakan orang mengira bahwa ‘mengelola perubahan’ itu hanya bisa dilakukan oleh para pengambil keputusan tertinggi. Jika saya belum mempunyai jabatan setinggi itu, bagaimana mungkin saya bisa mengelolanya? Keliru. Jabatan apapun yang Anda sandang, Anda memiliki peluang untuk mengelola perubahan. Jangan pernah mengira bahwa proses perubahan itu hanya akan berdampak pada level-level tertentu. Setiap perubahan penting di perusahaan berpengaruh langsung kepada semua level. Oleh karena itu, setiap orang pasti terkena imbasnya. Ciri orang yang mengelola perubahan itu adalah; dia mengembangkan diri sendiri sesuai dengan arah perubahan yang terjadi. Misalnya, sekarang Anda bertugas di departemen marketing. Anda rancang karir Anda kedepannya seperti apa – yang boleh jadi – ada di departemen lain. Lalu Anda menempa diri supaya bisa memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk meraihnya. Ketika perubahan itu terjadi, Anda benar-benar mendapatkannya persis seperti yang Anda rancang. Jika Anda mengira ini hanya teori, Anda keliru. Saya bisa membuktikan bahwa itulah yang saya lakukan ketika masih berkarir sebagai profesional.
Banjir Bangkok-Thailand, sebuah pelajaran buat Indonesia Kelak!
this season, i want to share a Thailand Flood Aerials 2011, hopefully it wont happen in Indonesia in the next day, let come with me.!
Daegu Herbalizz Trip of PKNU 2011
on 2011-10-29, we are touring to daegu herbalizz south korea, check the pictures out.
This slideshow requires JavaScript.
Raining is starting for this season…..
















my Comments